Blogger Widgets

Jumat, 07 November 2014

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.[1][2][3]
Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid.[butuh rujukan] Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya..

Sifat Pribadi

Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulai pengembaraan, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi beliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.

Pendidikan

Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih,filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah,Madinah,Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

Tasawuf

  • Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[4], merupakan karyanya yang terkenal
  • Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[5]
  • Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
Sebagian orang menganggap bahwa fikih dan tasawuf adalah dua entitas ilmu yang bertentangan. Jihad yang oleh umat Islam diyakini sebagai cara mencapai kejayaan Islam dimaknai secara berbeda oleh fikih dan tasawuf. Dalam fikih, jihad dimaknai sebagai berperang fisik melwan orang kafir. Sedangkan tasawuf memaknai jihad sebagai perang melawan hawa nafsu. Yang menarik adalah ketika al-Gazali yang ahli dalam bidang fikih tidak pernah terlibat atau meneriakkan perang fisik melawan tentara Salib yang telah mguasai Palestina. Muncul tuduhan bahwa al-Gazali telah tenggelam dalam tasawufnya. Al-Gazali adalah seorang ahli fikih yang kemudian menekuni tasawuf hingga ahir hidupnya. Sikap al-Gazali manarik minat peneliti untuk mengetahui lebih dalam tentang pandangan al-Gazali terhadap makna jihad dan bagaimana pelaksanaannya. Selain itu juga akan diteliti hal-hal yang menyebabkan terjadinya perpindahan al-Gazali dari fikih kepada tasawuf serta bagaimana proses perpindahan tersebut berlangsung. Harapannya, akan dapat diketahui juga penyebab tidak adanya peran aktif al-Gazali dalam perang Salib. Penelitian ini berupa penelitian kepustakaan yang sumber utamanya adalah buku-buku karya al-Gazali dan karya orang lain yang terkait dengan al-Gazali. Untuk menjawab masalah tersebut, penulis menggunakan Analis Wacana Kritis (AWK) sebagai alat analisa. Analisis wacana dipilih karena dalam analisanya tidak hanya bertumpu pada sejarah yang mendahului terjadinya sebuah peristiwa namun juga menggunakan konteks, ideologi yang berkembang dan analisis teks sebagai alat analisa. Dari penelitian diketahui bahwa jihad di mata al-Gazali dimaknai sebagai cara mencapai kejayaan Islam, sebagaimana pandangan fikih pada umumnya. Adapun pelaksanaannya tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Adakalanya jihad fikih yang digunakan dan adakalanya jihad tasawuf yang lebih diperlukan. Namun pelaksanaan jihad tasawuf tetap tidak boleh meninggalkan bentukbentuk fikihnya. Pada masa al-Gazali hidup, musuh terbesar yang dihadapi umat Islam bukanlah musuh yang datang dari luar, tetapi adalah kerusakan moral umat akibat menuruti hawa nafsu. Kedaan ini membuat al-Gazali berpindah dari fikih kepada tasawuf. Perpindahan ini terjadi melalui sebuah proses panjang yakni hampir sebelas tahun. Dari penelitian ini juga dapat diketahui bahwa tidak adanya peran aktif al-Gazali dalam perang Salib karena saat itu perang Salib belum memunculkan sentiment keagamaan di kalangan umata Islam sehingga tidak dimaknai sebagai perang suci melawan orang kafir. Perang yang terjadi diseputar Siria dilihat oleh penguasa Bagdad sebagai perang memperebutkan kekuasaan antar penguasa kecil di sekitar Siria yang melibatkan kelompok Bizantium yang Kristen serta Saljuk yang sunni dan Fhatimiyah..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar